Kumpulan Artikel Tentang Bangunan Bersejarah di Bandung


1.  Source : http://arspasundan.blogspot.com/2009/01/bangunan-tua-saksi-sejarah-bandung.html

BANGUNAN TUA, SAKSI SEJARAH BANDUNG

SEJARAH sebuah kota tidak hanya bisa ditelusuri dari perjuangan masyarakatnya. Selain melalui kondisi geologi, masih banyak saksi bisu lainnya yang bisa menceritakan perjalanan masa lalu sebuah kota, terutama ketika kota tersebut memasuki masa jaya.

Kota Bandung sebenarnya termasuk salah satu kota di Indonesia yang paling beruntung karena masih memiliki salah satu saksi sejarah masa lalunya yang bisa dibaca lewat bangunan-bangunan tua dengan berbagai langgam arsitekturnya. Melalui salah satu kekayaan itu, setiap orang bisa menelusuri perjalanan sejarah kota dan masyarakat Bandung, tergantung dari kepentingannya.
Dari segi arsitektur, Bandung pernah dijuluki sebagai laboratorium arsitektur paling lengkap karena memiliki begitu banyak kekayaan arsitektur yang hingga kini menjadi sumber inspirasi dan bahan penelitian yang tak habis-habisnya untuk digali. Berbagai bangunan tua bukan hanya mampu menceritakan bagaimana awal kota ini dibangun. Tetapi, dari sudut pandang lain-terutama dalam hubungan dengan peringatan 400 tahun VOC-bisa diketahui bagaimana kuku-kuku penjajah mulai mencengkeram daerah yang selama ini dijuluki Bumi Parahyangan untuk mengeksploitir sumber daya alam dan manusianya.

Dataran Tinggi Priangan dijadikan salah satu wilayah perkebunan sejak tahun 1870 dengan pusat dan sekaligus tempat tinggal mereka di Kota Bandung. Cikal bakal pembukaan areal perkebunan tersebut masih bisa disaksikan lewat bangunan tua yang kini dijadikan pusat pemerintahan Kota Bandung.

Gedung tersebut dibangun tahun 1819 oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda Van Der Cappelen atas usul Dr De Wilde yang saat itu jadi Asisten Residen Priangan (Balai Kajian Jarahnitra, 1998). Bangunan tersebut sebelumnya merupakan gudang tempat menyimpan kopi. Karena bentuk atapnya datar, masyarakat menjuluki gedung tersebut gedong papak. Papak artinya datar.
Akan tetapi, jika ditilik dari usianya, umur bangunan pendopo Kabupatan Bandung jauh lebih tua. Bangunan yang merupakan tempat tinggal bupati-bupati Bandung dan kini dijadikan tempat kediaman resmi Wali Kota Bandung itu didirikan Bupati RAA Wiranatakusumah II pada tahun 1810. Saat itu bertepatan dengan kepindahan ibu kota kabupaten dari Krapyak ke Kota Bandung.
MASA keemasan pembangunan fisik Kota Bandung ditandai dengan maraknya pembangunan gedung-gedung modern sejak akhir abad ke-19. Masa itu ditandai dengan dipindahkannya ibu kota Priangan dari Cianjur ke Bandung pada tahun 1864. Namun, dampak positif kemajuan sosial-ekonomi kota ini barulah memperlihatkan perkembangan yang luar biasa sejak direncanakan sebagai ibu kota Hindia Belanda, menggantikan Batavia yang sanitasinya dinilai kurang mendukung. Usul pemindahan ibu kota tersebut disampaikan HF Tillema (1916) dan disetujui Gubernur Jenderal Limburg Van Stirum.

Rencana boyong pusat-pusat kegiatan pemerintahan itu bukan hanya bisa disaksikan melalui berbagai instansi dan BUMN tingkat pusat yang hingga kini tetap bertahan di Bandung. Namun, bersamaan dengan rencana tersebut dibangun pula gedung-gedungnya, baik untuk perkantoran maupun tempat tinggal.

Dari segi arsitektur, era ini ditandai dengan ditinggalkannya langgam arsitektur Indische Empire Stijl sebagai bentuk bangunan yang paling hebat pada masa sebelumnya. Salah satu bangunan dengan langgam gaya arsitektur tersebut bisa disaksikan lewat Gedung Pakuan yang kini dijadikan tempat kediaman resmi Gubernur Jawa Barat (Jabar) di Jalan Oto Iskandar Dinata dan Markas Kepolisian Wilayah Kota Besar (Polwiltabes) Bandung di Jalan Merdeka.
Selain pernah dijadikan tempat kediaman Residen Priangan dan Gubernur Jabar, Gedung Pakuan pernah menjadi tempat kediaman resmi Wali Negara Pasundan tatkala Provinsi Jawa Barat menjadi negara Pasundan. Nama Gedung Pakuan diusulkan Dalem Istri RAA Wiranatakusumah V.
Sebagai sebuah daerah yang mulai berkembang jadi kota, Kota Bandung mengalami penataan yang lebih komprehensif sejak tahun 1920-an. Ditandai dengan pembangunan gedung-gedung yang dilakukan bersamaan dengan rencana pemindahan ibu kota telah mengundang perhatian para perancang kota dan bangunan. Salah seorang di antaranya perancang terkemuka, Ir Thomas Karsten, yang merancang Bandung sehingga gagasannya kemudian dikenal dengan “Plan Karsten”.
Dalam mengantisipasi perkembangan kota ia mengusulkan gagasan perluasan wilayah kota untuk 25 tahun ke depan dari semula 2.835 ha (1930) menjadi 12.758 ha yang diperuntukkan 750.000 penduduknya. Gagasan ini diperlukan untuk tetap mempertahankan Bandung sebagai Kota Taman yang membutuhkann ruang terbuka yang cukup luas.
SELAIN dikenal sebagai Kota Taman yang kemudian melahirkan berbagai sanjungan karena kecantikannya, di bidang arsitektur, Kota Bandung mewariskan kekayaan berbagai langgam arsitektur. Lewat bangunan-bangunan tua Gedung Sate yang hingga kini tetap menjadi landmark Kota Bandung, kampus Institut Teknologi Bandung (ITB) yang berusaha memadukan gaya arsitektur modern dan tradisional, kota ini masih menyimpan kekayaan gaya arsitektur art deco.
Seni kebangkitan art deco di Kota Bandung mencapai puncaknya pada tahun 1920-an. Salah satu di antaranya adalah Gedung Bumi Siliwangi yang kini dijadikan Kantor Rektorat Universitas Pendidikan Indonesia (UPI). Gedung yang hampir menyerupai kapal laut itu merupakan karya perancang Prof Wolf P Schoemaker. Bangunan ini pada awalnya merupakan vila milik DW Barrety yang dipersembahkan untuk istrinya.
Tahun 1964, gedung tersebut dibeli pemerintah dan kemudian digunakan untuk kegiatan penyelenggaraan pendidikan Perguruan Tinggi Pendidikan Guru (PTPG), cikal bakal Institut Keguruan Ilmu Pendidikan (IKIP) Bandung.
Langgam gaya arsitektur art deco yang tak kurang jumlahnya bisa dijumpai di sepanjang Jalan Braga, salah satu jalan paling bergengsi di Kota Bandung, di samping langgam gaya arsitektur lainnya. Maklum, pada saat itu di Bandung terdapat lebih dari 70 perancang bangunan. Bahkan, tak kurang dari Ir Soekarno, Presiden RI pertama, sempat memberi warna dan kekayaan arsitektur bangunan di kota ini. Bangunannya dicirikan dengan atap bertingkat dua dan bagian atasnya terdapat semacam gada.
Sayang, sebagian bangunan-bangunan yang bisa menceritakan tentang sejarah kota, kebudayaan dan seni arsitektur tersebut mulai banyak diruntuhkan. Beberapa di antaranya memang ada yang berhasil diselamatkan berkat usaha gigih yang dilakukan para pengurus Paguyuban Pelestarian Budaya Bandung (Bandung Heritage). Tetapi, sebagian lainnya sudah tidak jelas lagi karena sudah rata dengan tanah. Dengan kekuasaan rezim ekonomi, di atasnya sudah berdiri bangunan baru. Jadi, banyak yang mengkhawatirkan Bandung akan kehilangan salah satu identitas dan sekaligus kekayaan budayanya.

Entah mengapa Pemerintah Kota Bandung bisa memberikan izin. (hers)*

Sumber: Kompas

2. Source : http://www.ahmadheryawan.com/lintas-jabar/budaya-pariwisata/955-bangunan-bersejarah-di-kota-bandung.html

BANGUNAN BERSEJARAH DI KOTA BANDUNG PDF Print E-mail
A. Gedong Sabau, Jln. Kalimantan no. 14
Bangunan bekas gedung Departemen Peperangan (Departement van Oorlog). Dijuluki Gedong Sabau karena dibangun di atas lahan seluas sabau atau 0,7 hektar. Kini digunakan sebagai Gedung Detasemen Markas (Denma) Kodam III/Siliwangi.

B. Kodam III Siliwangi, Jln. Aceh no. 29
Bangunan yang dibangun pada 1917 oleh biro konsultas milik kakak beradik R.L.A Schoemaker dan C.P.W. Schoemaker ini sebelumnya merupakan Paleis Legercommandant, tempat Panglima Tertinggi Hindia Belanda.

C. Gedung Kologdam (Kompleks Jaarbeurs), Jl. Aceh no. 50
Bangunan yang diarsiteki C.P.W. Schoemaker ini dahulu dikenal sebagai tempat mengadakan bursa dagang tahunan. Di bangunan yang didirikan pada 1920 itu setiap tahunnya diadakan bursa dagang paling akbar yang dinamakan Jaarbeurs. Acara itu dimeriahkan dengan berbagai atraksi dan hiburan, karena itu masyarakat menyebutnya sebagai pasar malam.

D. Bank Indonesia, Jl. Braga no. 108
Bangunan rancangan Edward Cuypres yang selesai dibangun pada 1918 ini dahulu merupakan kantor De Javasche Bank. Bank ini merupakan salah satu bank utama yang tersebar di berbagai kota besar di Indonesia, misalnya Jakarta, Surabaya, Semarang, Solo, dan Medan. Setelah diambil alih pemerintah Indonesia, bangunan ini dijadikan kantor Bank Indonesia sejak 1953.

E. Gedung Indonesia Menggugat (Landraard), Jln. Perintis Kemerdekaan no. 5
Pada 1906 bangunan ini merupakan rumah tinggal. Pada 1917 bangunan ini berfungsi sebagai gedung pengadilan (Landraad). Pada 1930, Soekarno bersama rekan-rekannya Gatot Mangkoepradja, Maskoen Soemadipoetera dan Soepriadinata pernah diadili oleh pemerintah Belanda di sana. Soekarno membacakan pledoi yang termashur dengan Indonesia Menggugat.

F. Grand Hotel Preanger, Jln. Asia Afrika no. 81
Sebelum menjadi hotel yang megah, asalnya di lokasi Grand Hotel Preanger berdiri sebuah toko bernama Thiem. Setelah bangkrut, bersama sebah tko lain yang berada di sebelahnya, bangunan tersebut diubah menjadi hotel oleh WHC van Deertekom pada 1987. Hotel itu diberi nama Hotel Preanger. Pada saat Konferensi Asia-Afrika, hotel ini menjadi tempat menginap tamu-tamu pembesar dari negara peserta.

G. Hotel Surabaya, Jln. Kebonjati no. 71-73
Kompleks Hotel Surabaya awalnya merupakan rumah tinggal seorang Cina pada 1884. Sejak 1930-an berfungsi sebagai hotel yang menjadi tempat bermalam para pendatang dari luar kota yang menggunakan kereta api.
Hotel ini beberapa kali mengalami perubahan nama. Hingga 1953 dikenal dengan Hotel Tung Hua dan Hotel Union. Kemudia berganti nama menjadi Hotel Sangkuriang hingga 1962. Baru setelah itu bernama Hotel Surabaya.
Bangunan ini sepamt dijuluki Gedung Biru karena seluruh kusen pintu dan jendela, serta dindingnya bercat biru.

H. Hotel Homann, Jln. Asia Afrika no 112
Pada 1871-1872, bangunan Hotel Homann masih merupakan rumah panggung, berdinding gedek bambu dan papan, dan beratap rumbia. Semakin banyaknya tamu yang menginap, maka hotel ini mengalami beberapa kali perobakan.
Bintang film legendaris Charlie Chaplin pernah menginap di Homann hingga dua kali (1927 dan 1935). Selain itu, banyak musisi dan pejabat dunia yang pernah bermalam bangunan yang diarsuteki oleh A.F. Aalbers itu.

I. Bumi Sangkuriang, Jln. Kiputih no. 12
Bangunan yang dibangun pada 1957 ini merupakan pengganti Societeit Concordia yang berubah menjadi Gedung Merdeka pada 1955. Preanger Planters (orang-orang Belanda yang tinggal di perkebunan) yang biasa berkumpul di Societeit Concordia beralih berkumpul di sini.

J. Gedung Merdeka
Bangunan ini dibangun oleh C.P.W. Schoemaker pada 1922. Gedung ini dibangun untuk tempat berkumpulnya masyarakat Eropa, terutama mereka yang tinggal di daerah perkebunan. Bangunan itu dinamakan Societeit Concordia. Bangunan ini menjadi tempat hiburan paling bergengsi bagi orang-orang Belanda. Berbagai pertunjukan musik, tonil, teater, dan pesta dansa menjadi kegiatan rutin di sana. Tahun 1955 namanya berubah menjadi Gedung Merdeka. Digunakan sebagai tempat diselenggrakannya Konferensi Asia-Afrika.

K. Pendopo, Jln. Dalem Kaum
Kompleks Pendopo dibangun ketika Daendels memindahkan ibukota Priangan dari Krapyak ke daerah yang dilewati “Grootepostweg”. Bangunan yang dibangun pada 1810-1812 ini berda dalam satu kesatuan dengan bangunan rumah tinggalBupati Bandung kala itu.

L. Gedung Sate
Dibangun pada tahun 1920. Dulu dikenal dengan Governement Bedrijven. Biaya yang dikeluarkan pada tahap pertama 6 gulden, kemudian diterapkan pada ujung puncak bangunan seperti tusuk sate sehingga lahirlah istilah gedung sate.

M. FO Heritage, Jln. Martadinata no. 63
Bangunan yang dibangun pada akhir abad 19 itu, kini dikenal sebagi outlet penjual berbagai produk hasil pabrik garmen. Awalnya bangunan ini digunakan sebagai rumah tinggal. Bangunan ini sempat menjadi pangkalan bis luar kota, sebab pemiliknya pada waktu itu memiliki usaha transportasi.

N. Gedung Tiga Warna (Villa de Drie Kleur), Jln. Sultan Agung no. 1
Pada masa pemerintahan Jepang, bangunan yang semula merupakan rumah peristirahatan seseorang bernama Na Kim Himck itu difungsikan sebagai Kantor Berita Domei. Di sinilah teks Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia pertama kali dibacakan di Bandung.

O. Gedung Rumentang Siang, Jln. Baranang Siang no. 1
Gedung ini menjadi markas STB (Studiklub Teater Bandung), sebuah kelompok teater tertua di Indonesia. Berbagai pentas seni, baik tradisional maupun modern, masih eksis digelar di sana.

P. Asia Africa Cultural Centre, Jln. Braga no. 1
Gedung yang atapnya menyerupai kaleng biskuit (blikken trommel) ini dahulu merupakan gedung bioskop Majestic. Bisoskop eksklusif yang berdiri pada 1924 itu hanya diperuntukkan bagi orang-orang Belanda. Awalnya bernama Concordia Bioscoop lalu berubah menjadi Majestic Theatre (1937). Pada 1960-an semoat berganti nama menjadi Bioskop Dewi.

Q. Landmark, Jln. Braga no. 131
Ruang pameran Landmark Convention Centre dahulu adalah sebuah toko buku ternama, Van Dorp. Masa jayanya ketika pada 1940 pernah menerbitkan seri album lukisan bunga Indische Tuinbloemen. Toko Buku Van Dorp beroperasi hingga 1960. Satu dekade kemudian, pernah digunakan menjadi bioskop Pop Theatre.

R. Bioskop Dian, Jln. Dalem Kaum no. 58
Dahulu bernama Radio City. Salah satu bioskop yang terletak di sekitar alun-alun, selain tiga bioskop lainnya (Elita, Oriental, dan Varia. Ketiganya sudah rata dengan tanah pada 1980). Radio City kemudia berubah nama menjadi Dian. Kelesuan industri bioskop nasional, menyebabkan bioskop ini pun mati dan dijadikan gelanggang futsal.

S. Museum Geologi, Jln. Diponegoro
Satu-satunya museum geologi di Indonesia ini diresmikan pada 16 Mei 1929. Museum ini dibangun seiring dengan perkembangan penelitian geologi di Indonesia yang ditangani oleh Dienst von het Mijnwezen di Bogor (lalu pindah ke Batavia). Rencana pemindahan Ibu Kota Hindia Belanda membuat kantor ini diboyong ke Bandung. Sebelum mempunyai gedung sendiri, Museum Geologi sempat menumpang di Gedung Sate.

T. Gedung Dwiwarna, Jln. Diponegoro
Merupakam bangunan terakhir yang didirikan oleh Kolonial Belanda di Kota Bandung. Dahulu bernama Gedung “Indische Pensioenfondsen”. Konon, jumlah pensiunan di Kota Bandung memang paling banyak dibandingkan dengan kota-kota besar lainnya. Dalam sebuah berita kecil dalam “De Indische Gids” tahun 1932, ditemukan catatan “Bandoeng de Stad der Gepensioenneerden” (Bandung Kota Kaum Pensiun).

U. Warung Sudut, Jln. Gempol no. 1
Bangunan ini terletak di tikungan jalan, memiliki dua wajah. Pada jaman pemerintahan Belanda, bangunan sudut sangat diperhatikan. Dahulu merupakan bangunan yang menjadi pintu gerbang memasuki komplek perumahan pekerja.

V. Ex Borsumij Wehry, Jln. Halimun no. 36
Bangunan PT Borsumij Wehry Indonesia itu didirikan pada 1925. Dahulu difungsikan sebagai rumah peristirahatan.

W. Kompleks Bala Keselamatan, Jln. Jawa 18-20
Bangunan karya Brinkman dan Voorhave dibangun pada 1920 sebagai gedung “Hoofdkwartier van het Leger des Heils te Bandoeng” (Kantor Pusat Bala Keselamatan di Bandung). Hingga sekarang bentuk dan fungsinya masih sama.

X. Polwiltabes, Jln. Merdeka 16-20
Bangunan ini dahulu (1866) merupakan tempat mencetak guru-guru pribumi yang bernama Hollandsch Inlandsche Kweekschool (HIK). Fungsinya seagai pendidik para guru membuat sekolah ini dijuluki Sakola Raja. Saat itu guru merupakan status sosial yang cukup tinggi dengan gaji yang cukup. Status seorang guru bahkan lebih tinggi dari raja atau ratu.

Y. Puskesmas Tamblong, Jl Bungsu 2
Didirikan tahun 1925, dahulu difungsikan sebagai gedung Hogere Burger School (HBS). HBS merupakan lanjutan tingkat menengah pada zaman Hindia Belanda untuk orang Belanda, Eropa atau elite pribumi dengan bahasa pengantar bahasa Belanda.

Z. Komplek Pabrik Kina, Jln. Pajajaran/Cicendo/Cihampelas
Semula bernama Bandoengsche Kinine Fabriek N.V. Didirikan tahun 1986 oleh Gnelig Mijling A.W., merupakan salah satu industri palin tua di Bandung. Sempat menjadi pemasok kina paling besar di dunia. Selama lebih dari seabad, pabrik ini menjadi petunjuk waktu bagi penduduk sekitar. Bunyi sirinenya yang berbunyi empat kali sehahri menjadi petunjuk waktu kerja, istirahat dan pulang kerja. Bunyi sirine itu berasal dari dua buah ketel uap (BAbcock & Wilcock) yang mengeluarkan asap tebal melalui cerobongnya.***

BANGUNAN TUA, SAKSI SEJARAH BANDUNG

SEJARAH sebuah kota tidak hanya bisa ditelusuri dari perjuangan masyarakatnya. Selain melalui kondisi geologi, masih banyak saksi bisu lainnya yang bisa menceritakan perjalanan masa lalu sebuah kota, terutama ketika kota tersebut memasuki masa jaya.

Kota Bandung sebenarnya termasuk salah satu kota di Indonesia yang paling beruntung karena masih memiliki salah satu saksi sejarah masa lalunya yang bisa dibaca lewat bangunan-bangunan tua dengan berbagai langgam arsitekturnya. Melalui salah satu kekayaan itu, setiap orang bisa menelusuri perjalanan sejarah kota dan masyarakat Bandung, tergantung dari kepentingannya.
Dari segi arsitektur, Bandung pernah dijuluki sebagai laboratorium arsitektur paling lengkap karena memiliki begitu banyak kekayaan arsitektur yang hingga kini menjadi sumber inspirasi dan bahan penelitian yang tak habis-habisnya untuk digali. Berbagai bangunan tua bukan hanya mampu menceritakan bagaimana awal kota ini dibangun. Tetapi, dari sudut pandang lain-terutama dalam hubungan dengan peringatan 400 tahun VOC-bisa diketahui bagaimana kuku-kuku penjajah mulai mencengkeram daerah yang selama ini dijuluki Bumi Parahyangan untuk mengeksploitir sumber daya alam dan manusianya.

Dataran Tinggi Priangan dijadikan salah satu wilayah perkebunan sejak tahun 1870 dengan pusat dan sekaligus tempat tinggal mereka di Kota Bandung. Cikal bakal pembukaan areal perkebunan tersebut masih bisa disaksikan lewat bangunan tua yang kini dijadikan pusat pemerintahan Kota Bandung.

Gedung tersebut dibangun tahun 1819 oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda Van Der Cappelen atas usul Dr De Wilde yang saat itu jadi Asisten Residen Priangan (Balai Kajian Jarahnitra, 1998). Bangunan tersebut sebelumnya merupakan gudang tempat menyimpan kopi. Karena bentuk atapnya datar, masyarakat menjuluki gedung tersebut gedong papak. Papak artinya datar.
Akan tetapi, jika ditilik dari usianya, umur bangunan pendopo Kabupatan Bandung jauh lebih tua. Bangunan yang merupakan tempat tinggal bupati-bupati Bandung dan kini dijadikan tempat kediaman resmi Wali Kota Bandung itu didirikan Bupati RAA Wiranatakusumah II pada tahun 1810. Saat itu bertepatan dengan kepindahan ibu kota kabupaten dari Krapyak ke Kota Bandung.
MASA keemasan pembangunan fisik Kota Bandung ditandai dengan maraknya pembangunan gedung-gedung modern sejak akhir abad ke-19. Masa itu ditandai dengan dipindahkannya ibu kota Priangan dari Cianjur ke Bandung pada tahun 1864. Namun, dampak positif kemajuan sosial-ekonomi kota ini barulah memperlihatkan perkembangan yang luar biasa sejak direncanakan sebagai ibu kota Hindia Belanda, menggantikan Batavia yang sanitasinya dinilai kurang mendukung. Usul pemindahan ibu kota tersebut disampaikan HF Tillema (1916) dan disetujui Gubernur Jenderal Limburg Van Stirum.

Rencana boyong pusat-pusat kegiatan pemerintahan itu bukan hanya bisa disaksikan melalui berbagai instansi dan BUMN tingkat pusat yang hingga kini tetap bertahan di Bandung. Namun, bersamaan dengan rencana tersebut dibangun pula gedung-gedungnya, baik untuk perkantoran maupun tempat tinggal.

Dari segi arsitektur, era ini ditandai dengan ditinggalkannya langgam arsitektur Indische Empire Stijl sebagai bentuk bangunan yang paling hebat pada masa sebelumnya. Salah satu bangunan dengan langgam gaya arsitektur tersebut bisa disaksikan lewat Gedung Pakuan yang kini dijadikan tempat kediaman resmi Gubernur Jawa Barat (Jabar) di Jalan Oto Iskandar Dinata dan Markas Kepolisian Wilayah Kota Besar (Polwiltabes) Bandung di Jalan Merdeka.
Selain pernah dijadikan tempat kediaman Residen Priangan dan Gubernur Jabar, Gedung Pakuan pernah menjadi tempat kediaman resmi Wali Negara Pasundan tatkala Provinsi Jawa Barat menjadi negara Pasundan. Nama Gedung Pakuan diusulkan Dalem Istri RAA Wiranatakusumah V.
Sebagai sebuah daerah yang mulai berkembang jadi kota, Kota Bandung mengalami penataan yang lebih komprehensif sejak tahun 1920-an. Ditandai dengan pembangunan gedung-gedung yang dilakukan bersamaan dengan rencana pemindahan ibu kota telah mengundang perhatian para perancang kota dan bangunan. Salah seorang di antaranya perancang terkemuka, Ir Thomas Karsten, yang merancang Bandung sehingga gagasannya kemudian dikenal dengan “Plan Karsten”.
Dalam mengantisipasi perkembangan kota ia mengusulkan gagasan perluasan wilayah kota untuk 25 tahun ke depan dari semula 2.835 ha (1930) menjadi 12.758 ha yang diperuntukkan 750.000 penduduknya. Gagasan ini diperlukan untuk tetap mempertahankan Bandung sebagai Kota Taman yang membutuhkann ruang terbuka yang cukup luas.
SELAIN dikenal sebagai Kota Taman yang kemudian melahirkan berbagai sanjungan karena kecantikannya, di bidang arsitektur, Kota Bandung mewariskan kekayaan berbagai langgam arsitektur. Lewat bangunan-bangunan tua Gedung Sate yang hingga kini tetap menjadi landmark Kota Bandung, kampus Institut Teknologi Bandung (ITB) yang berusaha memadukan gaya arsitektur modern dan tradisional, kota ini masih menyimpan kekayaan gaya arsitektur art deco.
Seni kebangkitan art deco di Kota Bandung mencapai puncaknya pada tahun 1920-an. Salah satu di antaranya adalah Gedung Bumi Siliwangi yang kini dijadikan Kantor Rektorat Universitas Pendidikan Indonesia (UPI). Gedung yang hampir menyerupai kapal laut itu merupakan karya perancang Prof Wolf P Schoemaker. Bangunan ini pada awalnya merupakan vila milik DW Barrety yang dipersembahkan untuk istrinya.
Tahun 1964, gedung tersebut dibeli pemerintah dan kemudian digunakan untuk kegiatan penyelenggaraan pendidikan Perguruan Tinggi Pendidikan Guru (PTPG), cikal bakal Institut Keguruan Ilmu Pendidikan (IKIP) Bandung.
Langgam gaya arsitektur art deco yang tak kurang jumlahnya bisa dijumpai di sepanjang Jalan Braga, salah satu jalan paling bergengsi di Kota Bandung, di samping langgam gaya arsitektur lainnya. Maklum, pada saat itu di Bandung terdapat lebih dari 70 perancang bangunan. Bahkan, tak kurang dari Ir Soekarno, Presiden RI pertama, sempat memberi warna dan kekayaan arsitektur bangunan di kota ini. Bangunannya dicirikan dengan atap bertingkat dua dan bagian atasnya terdapat semacam gada.
Sayang, sebagian bangunan-bangunan yang bisa menceritakan tentang sejarah kota, kebudayaan dan seni arsitektur tersebut mulai banyak diruntuhkan. Beberapa di antaranya memang ada yang berhasil diselamatkan berkat usaha gigih yang dilakukan para pengurus Paguyuban Pelestarian Budaya Bandung (Bandung Heritage). Tetapi, sebagian lainnya sudah tidak jelas lagi karena sudah rata dengan tanah. Dengan kekuasaan rezim ekonomi, di atasnya sudah berdiri bangunan baru. Jadi, banyak yang mengkhawatirkan Bandung akan kehilangan salah satu identitas dan sekaligus kekayaan budayanya.

Entah mengapa Pemerintah Kota Bandung bisa memberikan izin. (hers)*

Sumber: Kompas

BANGUNAN TUA, SAKSI SEJARAH BANDUNG

SEJARAH sebuah kota tidak hanya bisa ditelusuri dari perjuangan masyarakatnya. Selain melalui kondisi geologi, masih banyak saksi bisu lainnya yang bisa menceritakan perjalanan masa lalu sebuah kota, terutama ketika kota tersebut memasuki masa jaya.

Kota Bandung sebenarnya termasuk salah satu kota di Indonesia yang paling beruntung karena masih memiliki salah satu saksi sejarah masa lalunya yang bisa dibaca lewat bangunan-bangunan tua dengan berbagai langgam arsitekturnya. Melalui salah satu kekayaan itu, setiap orang bisa menelusuri perjalanan sejarah kota dan masyarakat Bandung, tergantung dari kepentingannya.
Dari segi arsitektur, Bandung pernah dijuluki sebagai laboratorium arsitektur paling lengkap karena memiliki begitu banyak kekayaan arsitektur yang hingga kini menjadi sumber inspirasi dan bahan penelitian yang tak habis-habisnya untuk digali. Berbagai bangunan tua bukan hanya mampu menceritakan bagaimana awal kota ini dibangun. Tetapi, dari sudut pandang lain-terutama dalam hubungan dengan peringatan 400 tahun VOC-bisa diketahui bagaimana kuku-kuku penjajah mulai mencengkeram daerah yang selama ini dijuluki Bumi Parahyangan untuk mengeksploitir sumber daya alam dan manusianya.

Dataran Tinggi Priangan dijadikan salah satu wilayah perkebunan sejak tahun 1870 dengan pusat dan sekaligus tempat tinggal mereka di Kota Bandung. Cikal bakal pembukaan areal perkebunan tersebut masih bisa disaksikan lewat bangunan tua yang kini dijadikan pusat pemerintahan Kota Bandung.

Gedung tersebut dibangun tahun 1819 oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda Van Der Cappelen atas usul Dr De Wilde yang saat itu jadi Asisten Residen Priangan (Balai Kajian Jarahnitra, 1998). Bangunan tersebut sebelumnya merupakan gudang tempat menyimpan kopi. Karena bentuk atapnya datar, masyarakat menjuluki gedung tersebut gedong papak. Papak artinya datar.
Akan tetapi, jika ditilik dari usianya, umur bangunan pendopo Kabupatan Bandung jauh lebih tua. Bangunan yang merupakan tempat tinggal bupati-bupati Bandung dan kini dijadikan tempat kediaman resmi Wali Kota Bandung itu didirikan Bupati RAA Wiranatakusumah II pada tahun 1810. Saat itu bertepatan dengan kepindahan ibu kota kabupaten dari Krapyak ke Kota Bandung.
MASA keemasan pembangunan fisik Kota Bandung ditandai dengan maraknya pembangunan gedung-gedung modern sejak akhir abad ke-19. Masa itu ditandai dengan dipindahkannya ibu kota Priangan dari Cianjur ke Bandung pada tahun 1864. Namun, dampak positif kemajuan sosial-ekonomi kota ini barulah memperlihatkan perkembangan yang luar biasa sejak direncanakan sebagai ibu kota Hindia Belanda, menggantikan Batavia yang sanitasinya dinilai kurang mendukung. Usul pemindahan ibu kota tersebut disampaikan HF Tillema (1916) dan disetujui Gubernur Jenderal Limburg Van Stirum.

Rencana boyong pusat-pusat kegiatan pemerintahan itu bukan hanya bisa disaksikan melalui berbagai instansi dan BUMN tingkat pusat yang hingga kini tetap bertahan di Bandung. Namun, bersamaan dengan rencana tersebut dibangun pula gedung-gedungnya, baik untuk perkantoran maupun tempat tinggal.

Dari segi arsitektur, era ini ditandai dengan ditinggalkannya langgam arsitektur Indische Empire Stijl sebagai bentuk bangunan yang paling hebat pada masa sebelumnya. Salah satu bangunan dengan langgam gaya arsitektur tersebut bisa disaksikan lewat Gedung Pakuan yang kini dijadikan tempat kediaman resmi Gubernur Jawa Barat (Jabar) di Jalan Oto Iskandar Dinata dan Markas Kepolisian Wilayah Kota Besar (Polwiltabes) Bandung di Jalan Merdeka.
Selain pernah dijadikan tempat kediaman Residen Priangan dan Gubernur Jabar, Gedung Pakuan pernah menjadi tempat kediaman resmi Wali Negara Pasundan tatkala Provinsi Jawa Barat menjadi negara Pasundan. Nama Gedung Pakuan diusulkan Dalem Istri RAA Wiranatakusumah V.
Sebagai sebuah daerah yang mulai berkembang jadi kota, Kota Bandung mengalami penataan yang lebih komprehensif sejak tahun 1920-an. Ditandai dengan pembangunan gedung-gedung yang dilakukan bersamaan dengan rencana pemindahan ibu kota telah mengundang perhatian para perancang kota dan bangunan. Salah seorang di antaranya perancang terkemuka, Ir Thomas Karsten, yang merancang Bandung sehingga gagasannya kemudian dikenal dengan “Plan Karsten”.
Dalam mengantisipasi perkembangan kota ia mengusulkan gagasan perluasan wilayah kota untuk 25 tahun ke depan dari semula 2.835 ha (1930) menjadi 12.758 ha yang diperuntukkan 750.000 penduduknya. Gagasan ini diperlukan untuk tetap mempertahankan Bandung sebagai Kota Taman yang membutuhkann ruang terbuka yang cukup luas.
SELAIN dikenal sebagai Kota Taman yang kemudian melahirkan berbagai sanjungan karena kecantikannya, di bidang arsitektur, Kota Bandung mewariskan kekayaan berbagai langgam arsitektur. Lewat bangunan-bangunan tua Gedung Sate yang hingga kini tetap menjadi landmark Kota Bandung, kampus Institut Teknologi Bandung (ITB) yang berusaha memadukan gaya arsitektur modern dan tradisional, kota ini masih menyimpan kekayaan gaya arsitektur art deco.
Seni kebangkitan art deco di Kota Bandung mencapai puncaknya pada tahun 1920-an. Salah satu di antaranya adalah Gedung Bumi Siliwangi yang kini dijadikan Kantor Rektorat Universitas Pendidikan Indonesia (UPI). Gedung yang hampir menyerupai kapal laut itu merupakan karya perancang Prof Wolf P Schoemaker. Bangunan ini pada awalnya merupakan vila milik DW Barrety yang dipersembahkan untuk istrinya.
Tahun 1964, gedung tersebut dibeli pemerintah dan kemudian digunakan untuk kegiatan penyelenggaraan pendidikan Perguruan Tinggi Pendidikan Guru (PTPG), cikal bakal Institut Keguruan Ilmu Pendidikan (IKIP) Bandung.
Langgam gaya arsitektur art deco yang tak kurang jumlahnya bisa dijumpai di sepanjang Jalan Braga, salah satu jalan paling bergengsi di Kota Bandung, di samping langgam gaya arsitektur lainnya. Maklum, pada saat itu di Bandung terdapat lebih dari 70 perancang bangunan. Bahkan, tak kurang dari Ir Soekarno, Presiden RI pertama, sempat memberi warna dan kekayaan arsitektur bangunan di kota ini. Bangunannya dicirikan dengan atap bertingkat dua dan bagian atasnya terdapat semacam gada.
Sayang, sebagian bangunan-bangunan yang bisa menceritakan tentang sejarah kota, kebudayaan dan seni arsitektur tersebut mulai banyak diruntuhkan. Beberapa di antaranya memang ada yang berhasil diselamatkan berkat usaha gigih yang dilakukan para pengurus Paguyuban Pelestarian Budaya Bandung (Bandung Heritage). Tetapi, sebagian lainnya sudah tidak jelas lagi karena sudah rata dengan tanah. Dengan kekuasaan rezim ekonomi, di atasnya sudah berdiri bangunan baru. Jadi, banyak yang mengkhawatirkan Bandung akan kehilangan salah satu identitas dan sekaligus kekayaan budayanya.

Entah mengapa Pemerintah Kota Bandung bisa memberikan izin. (hers)*

Sumber: Kompas

3. Source :http://adit1303.multiply.com/journal/item/20/Bandung_yang_Sarat_Bangunan_Bersejarah_…

“Aen een negrije genaemt Bandong bestaende uijt 25 a 30 huysen”. “Ada sebuah negeri dinamakan Bandong yang terdiri atas 25 sampai 30 rumah,” demikian kira-kira arti dari tulisan seorang Belanda bernama Juliaen de Silva pada tahun 1641, dengan menggunakan bahasa Belanda kuno.

Juliaen de Silva, menurut Prof Dr EC Godee Molsbergern (1935) dalam bukunya yang disimpan di arsip negara Batavia (Jakarta-red), mungkin orang “asing” pertama yang keluyuran ke wilayah Bandung ketika itu. Lalu, bagaimana ceritanya sehingga Bandong yang sekarang ini lebih dikenal dengan nama Kota Bandung dan sarat dengan bangunan bersejarah dengan arsitek Belanda bisa menjadi kaya dengan bangunan yang arsitekturnya dari Negeri Kincir Angin?
Adalah Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Herman Willem Daendels (1808-1811), yang memprakarsainya. Tugasnya waktu itu adalah memperkuat pertahanan dan kedudukan Belanda di Pulau Jawa dari kemungkinan serangan bala tentara Inggris. Salah satu perannya adalah membangun Jalan Raya Pos yang dahulu disebut Grote Postweg yang membentang dari Anyer (Jabar) sampai ke Panarukan di Jawa Timur.

Tatkala pembangunan jalur jalan memasuki wilayah Tatar Bandung, ternyata jalan sampai di sebuah titik yang berjarak 11 kilometer di utara ibu kota Kabupaten Bandung, Dayeuhkolot. Akhirnya, Daendels menurunkan surat keputusan yang memerintahkan Bupati Bandung dan Bupati Parakanmuncang agar memindahkan ibu kotanya masing-masing ke tepi jalan raya yang dibangunnya.

Berdasarkan surat Daendels bertanggal 25 Mei 1810, Bupati Wiranatakusumah II memindahkan ibu kota Kabupaten Bandung, dari Dayuehkolot ke daerah Alun-Alun sekarang. Setelah pemindahan itu selesai, Daendels meneruskan perjalanan kakinya dengan menyeberangi jembatan Cikapundung sampai ia berhenti dan menancapkan tongkatnya sembari berkata, “Zorg, dat als ik terug kom hier een stad is gebouwd!” Yang artinya, “Coba usahakan, bila aku datang kembali di tempat ini telah dibangun sebuah kota!”
Konon, di tempat Daendels menancapkan tongkatnya, dibuatlah sebuah patok atau tugu yang kemudian dinyatakan sebagai Kilometer “0” (nol), yang saat ini berlokasi di depan Dinas Bina Marga, Jawa Barat, Jalan Asia-Afrika, Bandung.

Lewat perintahnya itulah kemudian orang bergegas membangun Kota Bandung, hingga akhirnya menemui bentuknya seperti sekarang ini. Peninggalan bangunan bersejarah sejak jaman pembangunannya dahulu hingga saat ini masih banyak yang berdiri dengan megah di kota yang menjadi tempat penyelenggaraan Konferensi Asia-Afrika untuk pertama kali pada tahun 1955.

Pelestarian Budaya

Sadar atau tidak, ternyata Bandung memang memiliki banyak sekali bangunan bersejarah. Setidaknya, berdasarkan catatan yang dimiliki Paguyuban Pelestarian Budaya atau yang lebih dikenal dengan nama Bandung Heritage, ada sekitar 1.000 rumah atau bangunan bersejarah di kota yang mendapat julukan Paris van Java ini.
“Selain itu masih ada sekitar 1.000 bangunan lainnya yang belum tercatat. Memang mayoritas yang tercatat itu adalah rumah tinggal selain monumen, bangunan sekolah, bangunan militer, gereja, rumah sakit dan lainnya,” ujar Direktur Eksekutif Bandung Heritage, Frances B Affandy, kepada Pembaruan saat ditemui di ruang kerjanya.

Gedung Pakuan atau yang saat ini digunakan sebagai rumah dinas Gubernur Jawa Barat di Jalan Otto Iskandar Dinata No 1, Bandung adalah salah satu bangunan yang pertama kali dibangun oleh Belanda. Mulanya, gedung yang bergaya arsitektur Indische Empire Stijl (gaya Empire Hindia) ini digunakan sebagai kediaman resmi Residen Priangan di Kota Bandung.
Pembangunan gedungnya sendiri baru dilaksanakan pada tahun 1864 oleh Residen Van Der Moore setelah peristiwa pindahnya ibukota karisidenan Priangan dari Cianjur ke Kota Bandung tidak lama setelah meletusnya Gunung Gede. Bangunan yang sekilas mirip dengan penampilan istana negara ini diselesaikan pembangunannya selama tiga tahun.

Bangunan yang lain yang usianya hampir sama tua dengan Gedung Pakuan adalah bangunan Pendopo Kabupaten yang memiliki bentuk atap bertumpuk yang khas dan mempunyai nilai sejarah tersendiri bagi berdirinya Kota Kembang. Tahun pembangunannya bersamaan dengan Mesjid Agung di pusat Kota Bandung pada tahun 1850 yang berfungsi sebagai gedung pemerintahan.

Jika dilihat, bangunan yang menjadi kediaman dinas wali kota Bandung ini terpengaruh oleh gaya arsitektur Jawa. Saat pembangunannya pertama kali, bangunan komplek Pendopo Kabupaten Bandung dibangun dengan menggunakan bahan kayu dan atap ilalang atau injuk, baru pada tahun 1850 diganti dengan bangunan tembok dan atap genteng.

Arsitek Asing

Makin banyaknya gedung karya arsitek Belanda di Bandung ini juga tidak terlepas dari penetapan Gubernur Jenderal Hindia Belanda, JP van Limburg Stirum (1916) yang menyatakan secara fisik Bandung dipersiapkan menjadi Ibukota Nusantara (Hindia Belanda).
Langkah serius pemindahan itu terlihat pada tahun 1916, saat Departement van Oorlog (Departemen Peperangan) atau DVO dipindah dari Weltevreden (Gambir) ke Bandung dan menempati Gedung Sabau yang mulai dibangun pada tahun 1908. sebelumnya, pada tahun 1898, pabrik senjata dan mesiu lebih dahulu dipindahkan dari Surabaya dan Ngawi ke Kiaracondong, Bandung.

Sedangkan lapangan terbang Andir yang kini menjadi Bandara Husein Sastranegara pada tahun 1914 telah diresmikan menjadi pangkalan udara di hindia Belanda. Hal ini terus berlanjut ke sejumlah jawatan atau instansi pemerintah pusat, antara lain : Jawatan Kereta Api Negara, Pos Telepon dan Telegrap, Jawatan Geologi dan Pertambangan, Jawatan Metrologi, Kantor Keuangan dan Dana Pensiun dipindahkan dari Batavia dan Bogor ke Bandung.
Untuk menampung dan menempatkan seluruh Departemen Pemerintah Pusat di Kota Bandung dalam sebuah kompleks khusus yang terpadu, maka pihak Gemeente (Kotapraja) Bandung telah menyediakan lahan berbentuk empat persegi panjang seluas 27.000 meter persegi di bagian utara Kota Bandung, yang membentang dari selatan ke utara mulai dari Gedung Sate dengan sumbu lurus ke arah Gunung Tangkuban parahu, kira-kira sampai wilayah sekitar Jalan Tubagus Ismail sekarang ini.

Di samping itu, sebidang lahan seluas 0,5 hektar di Jubileum Park (Taman Sari kini), tepatnya pada lokasi Pusat Tenaga Atom di Jalan Taman Sari Bandung, disediakan sebagai lokai Villa peristirahatan Gubernur Jenderal Hindia Belanda.

Konsekuensi lain dari ditunjukknya Bandung sebagai Ibukota Nusantara adalah selama periode tahun 1920-1941 tercatat lebih dari 67 orang arsitek bangsa Eropa terkenal yang tinggal bermukim serta ikut membangun “Kota Kembang” ini. Selama tujuh tahun (1918-1925) secara bertahap sejumlah arsitek karyawan Gemeente-werken (Dinas Teknik) Bandung di bawah pimpinan Ir. F.J.L. Ghijsels berhasil membangun 400 sampai 750 bangunan rumah modern, guna menampung para pegawai negeri pindahan dari Batavia ke Bandung.
Berbagai bentuk, corak, dan gaya bangunan Eropa seperti Indische Empire Stijl, Art Noveau, Neo Klasik, Romantik, Tradisional Stijl, Villa Huis, Oud Holland, Fungsionalisme, Indo Europeesche Architectuur Stijl seperti kampus ITB dan Art Deco tampak menghiasi Kota Bandung saat itu, jadi jangan heran bila Bandung kemudian mendapat julukan Paris van Java.

Cagar Budaya

Kehadiran Undang-Undang RI Nomor 5 Tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya, selain sebagai pengganti dan penyempurnaan dari Monumenten Ordonantie Staatsblad No. 238 Tahun 1931 yang elah diberlakukan sejak zaman kolonial dulu, ternyata bukan jaminan gedung-gedung dan bangunan-bangunan monumen bersejarah telah aman terlindungi.

“Lahir dan berkembangnya suatu budaya sangat erat kaitannya dengan lingkungan alamnya. Peninggalan hasil budaya bangsa cukup banyak jenisnya, meskipun banyak di antaranya merupakan hasil karya bangsa lain. Tapi jangan lupa banyak juga unsur budaya bangsa Indonesia yang terselip atau diselipkan di dalamnya,” ujar Frances menerangkan pentingnya benda cagar budaya seperti bangunan dan monumen bersejarah.

Karena selain untuk meningkatkan ketahanan nasional, budaya tersebut dapat juga dijadikan mata rantai sejarah yang tidak terputus. Sehingga data dan informasi budaya untuk pendidikan dan penelitian tidak hilang.
“Salah satunya dengan turut memeliharanya agar kehadirannya dapat dimanfaatkan seoptimal mungkin untuk kesejahteraan hidup manusia,” tambah Frances.

Benda cagar budaya sendiri adalah benda buatan manusia, baik yang bergerak atau tidak, berupa kesatuan atau kelompok, yang berumur sekurang-kurangnya 50 tahun atau mewakili masa gaya yang khas dan mewakili masa gaya yang sekurang-kurangnya 50 tahun, serta dianggap mempunyai nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan dan kebudayaan.

Walaupun masih banyak hal tentang bangunan dan monumen bersejarah di Bandung ini yang belum terungkap, tidaklah salah bila Kota Bandung dijadikan sebagai salah satu kota tujuan wisata kota atau arsitektur yang bernilai sejarah tinggi. Apalagi, latar belakang pembangunan Kota Bandung sendiri cukup menarik diikuti.
“Sangat membantu jika usaha pelestarian tersebut yang dibantu oleh pemerintah khususnya Dinas Budaya dan Pariwisata (Disbudpar) Jabar dan masyarakat. Sedangkan untuk masyarakatnya, kami sedang membuat program-program yang dapat mendukung ke arah sana, seperti yang sudah kami lakukan dengan membuat Jejak Perjuangan Bandung Lautan Api, dan juga Heritage Walk. Program yang mengajak masyarakat untuk melihat dan mendengarkan serta mengetahui sejarah di kota ini,” sahut Frances.

Kategori 3: Trying to Retrieve Information in ATM


Trying to Retrieve Information in ATM

Retrieve Information from ATM outdoor night activity 1

Retrieve Information from ATM outdoor night activity 1

Menghentikan motor di tempat parkir sambil melihat keadaan keamanan. Ternyata tidak ada yang jaga.

Retrieve Information from ATM outdoor night activity 2

Retrieve Information from ATM outdoor night activity 2

Turunlah dari motor dan bergegas menuju ke ATM.

Retrieve Information from ATM outdoor night activity 3

Retrieve Information from ATM outdoor night activity 3

Lakukan sebuah transaksi sambil menyimpan sebuah alat.

Retrieve Information from ATM outdoor night activity 4

Retrieve Information from ATM outdoor night activity 4

Tak jauh dari lokasi teman mereka sudah melakukan monitor terhadap aktifitas-aktifitas yang terjadi.

Retrieve Information from ATM outdoor night activity 5

Retrieve Information from ATM outdoor night activity 5

Ada nasabah datang, sepertinya mahasiswa.

Retrieve Information from ATM outdoor night activity 6

Retrieve Information from ATM outdoor night activity 6

Kemudian ia melakukan transaksi deh…

Retrieve Information from ATM outdoor night activity 7

Retrieve Information from ATM outdoor night activity 7

Yang bertugas memonitor aktifitas menangkap ada transaksi.

Retrieve Information from ATM outdoor night activity 8

Retrieve Information from ATM outdoor night activity 8

Nasabah cek saldo ternyata saldo Rp. 0,-. Ia menghubungi temannya yang mengerti mesin ATM.

Retrieve Information from ATM outdoor night activity 9

Retrieve Information from ATM outdoor night activity 9

Temannya adalah orang yang melakukan monitor terhadap mesin ATM. “Ooo.. itu kamu ya??”.

Retrieve Information from ATM outdoor night activity 10

Retrieve Information from ATM outdoor night activity 10

Karena temannya, akhirnya uang dikembalikan ke pemiliknya, yakni pak nasabah tadi. Jangan ditiru…

TUGAS BESAR INFORMATION RETRIEVAL IT TELKOM 0910-2 KATEGORI 2: When Information Retrieval Assignment


When Information Retrieval Assignment

Doing Information Retrieval Assignment 1

Doing Information Retrieval Assignment 1

cerita 1

Doing Information Retrieval Assignment 2

Doing Information Retrieval Assignment 2

cerita 2

Doing Information Retrieval Assignment 3

Doing Information Retrieval Assignment 3

cerita 3

Doing Information Retrieval Assignment 4

Doing Information Retrieval Assignment 4

cerita 4

Doing Information Retrieval Assignment 5

Doing Information Retrieval Assignment 5

cerita 5

Doing Information Retrieval Assignment 6

Doing Information Retrieval Assignment 6

cerita 6

Doing Information Retrieval Assignment 7

Doing Information Retrieval Assignment 7

cerita 7

Doing Information Retrieval Assignment 8

Doing Information Retrieval Assignment 8

cerita 8

Doing Information Retrieval Assignment 9

Doing Information Retrieval Assignment 9

cerita 9

Doing Information Retrieval Assignment 10

Doing Information Retrieval Assignment 10

cerita 10

TUGAS BESAR INFORMATION RETRIEVAL IT TELKOM 0910-2 KATEGORI 1: Intro of Information Retrieval Team


Intro of RetrievalInformation Team

Gelar Merin S – 113050265

Foto gelar information retrieval 1

Foto gelar information retrieval 1

cerita 1

Foto gelar information retrieval 2

Foto gelar information retrieval 2

cerita 2

Foto gelar information retrieval 3

Foto gelar information retrieval 3

cerita 3

Foto gelar information retrieval 4

Foto gelar information retrieval 4

cerita 4

Foto gelar information retrieval 5

Foto gelar information retrieval 5

cerita 5

Bayu Munajat – 113060113

Foto Bayu Munajat information retrieval 1

Foto Bayu Munajat information retrieval 1

Terdapat sekian banyak mahasiswa di dunia ini yang belajar tentang Information Retrieval, salah satunya saya, Bayu Munajat, mahasiswa informatika Institut Teknologi Telkom. Surfing merupakan salah satu kegemaran, tapi surfing yang dimaksud adalah surfing di dunia maya alias internet. Moga-moga dengan kegemaran yang satu ini bisa memperkaya khasanah dan spiritual kemudian kita bisa berbagi dalam kebersamaan. Saran dari saya, pastikan filter informasi Anda dalam keadaan ON ketika surfing, termasuk ketika membaca tulisan ini. Detail dari gambar sendiri Razer Death-Adder sebagai aktor utama, snake-pad bertuliskan BizNet, gelas dengan gambar maskot Domino 2009, dan earphone Sennheiser punya tetangga.

Foto Bayu Munajat information retrieval 2

Foto Bayu Munajat information retrieval 2

Kegemaran lain yang temporal adalah membuat game, kebetulan tersesat di Xna dan punya alat Xbox GamePad for PC. Keterkaitan dengan kegemaran sebelumnya, yakni surfing, semua cara untuk buat game dapat dari internet dan melalui sebuah tools canggih bernama search engine yang merupakan salah satu contoh information retrieval (IR) yang paling dikenal banyak orang.

Foto Bayu Munajat information retrieval 3

Foto Bayu Munajat information retrieval 3

Notebook punya saudara yang akhir-akhir ini sering kupinjam. Sangat membantu untuk kerjaan yang ga bisa di-remote dari tempat nongkrong. Mobilitas dan portabilitas sangat tinggi bisa menaikkan efisiensi kerja. Satu yang disayangkan, belum terbiasa untuk melakukan komputasi (*mau bilang kurang ergonomic buat saya).

Foto Bayu Munajat information retrieval 4

Foto Bayu Munajat information retrieval 4

Audio-visual, yang digital bisa diperoleh dengan menggunakan 2 alat diatas. Untuk audio, Headset Philip + stiker Razer biasanya dipakai untuk relaksasi dan sinkronisasi otak kalo lagi tersesat di alam kepenatan.. . Untuk visual, LCD Lenovo yang dipinjam dari paket-nya sementara sampai ada yang menggantikan. Kedua alat di atas sangat membantu kegiatan surfing, game making, juga blogging, termasuk post pada tulisan ini sebagai tugas IR.

Foto Bayu Munajat information retrieval 5

Foto Bayu Munajat information retrieval 5

Koq gitar?? Mungkin calon kegemaran yang entah kapan. Karena tidak ada objek lagi yang ingin kuambil fotonya, jadi gitarnya siapalah lupa lagi namanya, pokoknya punya temennya ubay, gitar ini jadi dipotret. Waktu difoto di tkp senarnya udah putus, tapi ga ada pihak berwajib atau tim forensik yang menindaklanjuti kejadian itu. Jadi saya memilih untuk kembali surfing dan membuat game karena sudah dekat dengan deadline juga. Ayo Semangat!!

Singgih Kuncoro – 113060188

Foto Singgih information retrieval 1

Foto Singgih information retrieval 1

cerita 1

Foto Singgih information retrieval 2

Foto Singgih information retrieval 2

cerita 2

Foto Singgih information retrieval 3

Foto Singgih information retrieval 3

cerita 3

Foto Singgih information retrieval 4

Foto Singgih information retrieval 4

cerita 4

Foto Singgih information retrieval 5

Foto Singgih information retrieval 5

cerita 5

Muhammad Nurrahman – 113070306

Foto Nur information retrieval 1

Foto Nur information retrieval 1

cerita 1

Institut Teknologi Telkom Gedung A lantai 2.  Terdapat benda yang tidak biasa di sana, benda tersebut bisa mengeluarkan bunyi – bunyian yang bermacam – macam. Benda tersebut kini jarang digunakan. Akan tetapi sekarang benda tersebut ada di Gedung A lantai 2 Institut Teknologi Telkom

Foto Nur information retrieval 2

Foto Nur information retrieval 2

cerita 2

Alat yang sangat berguna. Anda bisa betah di kosan, di lab dan dimanapun juga karena adanya alat ini. Bulunya yang halus nan lembut sungguh mempesona…
Itulah kemoceng yang ada di Institut Teknologi Telkom yang tergeletak di lantai 2 gedung A. Entah dipakai buat apa di sana….

Foto Nur information retrieval 3

Foto Nur information retrieval 3

cerita 3

Orang paling keren yang ada di Institut Teknologi Telkom :D. Anda bisa menemuinya di kosannya {kalau lagi di kosan} atau di kampus {kalau lagi kuiah} atau di lab {kalau lagi nongkrong di lab} atau di Student Center {kalau lagi main ke sana} atau di lapangan tennis {kalau lagi main tennis}

Foto Nur information retrieval 4

Foto Nur information retrieval 4

cerita 4

Ini dia barang yang menjaga netbook orang terkeren di Institut Teknologi Telkom tetap bersih walau apapun juga!! 😀 Dompet netbook…. {entah apa nama sebenernya} (‘,’)7
Lapisannya yang tebal mampu meredam goncangan macam apapun, sehingga barang yang ada didalamnya tetap terjada dengan baik 🙂

Foto Nur information retrieval 5

Foto Nur information retrieval 5

cerita 5

Ini dia, yang membantu dalam mengerjakan segala sesuatu, termasuk dalam mengerjakan Tugas Besar Information Retrieval. Ukurannya kecil dan mudah dibawa kemana mana termasuk kampus Institut Teknologi Telkom 🙂
bisa digunakan untuk hot spot, ada cameranya juga, tidak ketinggalan keyboarnya {yang jelas – jelas terpampang di sana}
inilah netbook orang terkeren se Institut Teknologi Telkom